Wednesday, January 29, 2014

Janur Kuning

“Tapi kasihan juga si fulan, salah sendiri sih suka tapi ngelak terus~”
“Tenang, selama janur kuning belum melengkung masih milik bersama~”

Pemikiran itu tak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar.

Optimisme.

Tapi, jika kita geser sedikit sudut pandang kita, bukankah sebenarnya itu adalah pemikiran yang jahat? Bukankah secara tidak langsung kita jadi mendoakan agar hubungan orang-yang-kita-kasihi-namun-bertepuk-sebelah-tangan itu tidak langgeng? Bukankah inilah yang nantinya akan memicu tindakan atau niat tak berperasaan, seperti katakanlah merusak hubungan mereka?


Wah wah  semakin hari sedikit demi sedikit aku semakin lihai menilai dari sisi lain. Tidak ada yang benar-benar benar, dan tidak ada yang benar-benar salah. Pola pikir yang penting untuk dimiliki, tapi sejujurnya ku benci karena melahirkan pesimisme dan skeptisime yang sebenarnya tak perlu terjadi. 

Sunday, January 26, 2014

Tes Usia Mental

Iseng ngikutin Tes Usia Mental, dan hasilnya begini :



LOL gak nyangka banget dapat segitu. Kirain bakal lebih muda.. aku kan kekanakan (x_x)

Friday, January 24, 2014

Sunday, January 19, 2014

Masih 18

Aku : (Jalan keluar dari comlab) "Oh iyo ado yang nak ku omongke ke kau sebelum aku balek, Hm, cakmanolah yo ngomongkenyo.. dahlah jangan cak itu nian, dak usah mikir macam-macam. Maseh 18 tahun kito ni. OK!  Dah yo aku balek. Dadah~ Hahahahaaaaa~~!!!!"

Sering kali aku berpikir, gimana jadinya sekarang kalau saja waktu itu aku tidak kepo lantas membuat orang itu menceritakan kisahnya dengan sedikit paksaan.

LOL. Terlebih lagi sepertinya seruan itu lebih pantas jika ditujukan padaku sekarang ~XD

Dahlah des, maseh 18 kau tu. Jangan cak ini nian. OK!

LOL~XD


Ah~ geu namja :))

Thursday, January 16, 2014

Tuesday, January 7, 2014

Rumah

Kalau boleh tahu, apakah arti rumah bagimu?

Rumah tidak selalu harus seperti ini

Lagi malas gambar


Boleh jadi seperti ini



Atau seperti ini



Bahkan terkadang cukup seperti ini



Rumah tak harus selalu berarti sebuah bangunan dimana seluruh keluarga berkumpul. Bukan berarti itu salah, tapi bagiku rumah lebih sebagai tempat dimana kita menemukan kenyamanan—bahkan disaat kita sendirian. Tempat dimana kita mendapat bukan sekedar sambutan, tapi juga pengakuan. Tempat dimana kita bisa jadi diri kita apa adanya tanpa khawatir dicemooh. Tempat yang—tanpa kita sadari—kemanapun kita pergi pada akhirnya akan selalu jadi tujuan , tempat pelarian, dan “pulang”.

Rumah erat hubungannya dengan keluarga. Keluarga disini tidak melulu berarti orang-orang yang terikat perjanjian darah yang ditakdirkan Tuhan. Bisa jadi berupa sahabat karib, ataupun orang-orang yang menginginkan keberadaan kita lebih dari apapun.

Aku merindukan rumahku.

Selama ini aku selalu berusaha menemukan rumah, tapi seiring dengan bergulirnya tulisan ini aku mulai berpikir untuk menciptakan sendiri sebuah rumah yang nyaman. Bukan lagi mencari, tapi menciptakan.


Sebuah rumah bagiku sendiri... dan juga orang lain.

desty@nurmadestyanggraeni.blogspot.com

Monday, January 6, 2014

I Swear

Uri hamkke ulgo utdeon jiwojiji anheul gieok ganjikhae
But I cherish the inerasable memories that we cried and laughed together


Saranghamnida

Why did you took my heart without my permission?


Dong Bang Shin Ki version : http://www.youtube.com/watch?v=htceQqJzwLo