Friday, January 20, 2017

Lidahku, Lidah Indonesia (Minggu Ketiga)

Klik gambar untuk informasi challenge
Halo!

Kali ini karena temanya adalah makanan, jadi aku akan berbicara tentang makanan-makanan favoritku. Sebenarnya sih, tema yang diusung adalah food you can't live without. Tapi karena aku makan untuk hidup bukan hidup untuk makan ya aku enggak pernah berpikir aku gak bisa hidup tanpa makanan ini nih.

Aku juga enggak pernah menyediakannya khusus untuk selalu ada. Kan banyak ya misalnya si A suka banget permen, jadi permen itu harus selalu tersedia setiap waktu di sakunya.

Enggak.

Kalo gak ada makanan A ya kita cari makanan C, D, E, dst.

Hidup kita singkat dan jumlah makanan lezat itu ada banyak, jadi sayang rasanya kalau hanya mengkhususkan satu jenis makanan saja.


Kenapa makanan-makanan? Karena makanan yang aku suka tidak hanya ada satu. Karena, ya balik lagi ke poin di atas. Ada banyak makanan enak diluar sana, sayang rasanya kalau hanya mengkhususkan satu jenis makanan saja LOL.
Alah, alesan. Bilang aja karena kamu tukang makan des
Ehe. 
Setelah merenung sebentar, memilah-milah mana makanan yang paling aku suka, aku baru sadar kalau lidahku ini Indonesia banget! Huhu.

Aku gak merasa sudah makan kalau belum ketemu nasi. Indonesia banget kan ya hahaha. Tapi akhir-akhir ini aku udah bisa keluar dari tipu muslihatnya si putih ini sih. Aku sekarang lebih mikir ke kandungannya.

Aku kan sedang dalam program penurunan berat badan, jadi mau enggak mau aku harus ubah mindset aku tentang makanan, dan kondisi seperti apa yang disebut sudah makan tersebut.

Jadi gini, makanan pokok kita kan nasi. Nah, nasi itu isinya adalah karbohidrat. Jadi, sebenarnya yang jadi makanan pokok kita bukan si nasi tapi karbohidratnya, ngerti?

Makanan yang mengandung karbohidrat bukan cuma nasi. Masih ada mie, roti, ubi, jagung, kentang, dan yang lainnya. Bahkan sayur-mayur juga mengandung karbohidrat loh. Jadi, karena yang kita sebut makan itu sebenarnya mengkonsumsi karbohidrat, dan karbohidrat itu engak cuma ada di nasi, otomatis kita udah bisa disebut sudah makan meski enggak pakai nasi.

Lalu, memang benar kalau karbohidrat itu yang paling cepat dibakar oleh tubuh untuk dijadikan energi. Tapi sumber energi enggak cuma karbohidrat tok. Masih ada protein dan lemak. Jadi aku juga udah bisa disebut makan walau enggak pakai nasi.

Kesimpulannya, dengan dua poin di atas, aku udah bisa sedikit lepas dari jeratan si nasi ini. Kalau udah makan seblak mie, misalkan. Ya aku enggak perlu makan nasi lagi setelahnya. :)
Kalau aku.
Tahu-tempe, Ini duo maut yang setelah dipikir-pikir emang selalu ada di menu harianku LOL. Enak banget mau dimasak apapun juga, bahkan cukup digoreng aja udah enak. Dicocol pakai sambal apalagi hummm gurih. Eh, mereka sendiri dijadikan sambal juga enak kok. Bahkan kalau dirumah sambal tempe ataupun sambal tahu itu udah jadi makanan keseharian banget. Gizinya juga enggak main-main sih ya, proteinnya insya Allah bisa memenuhi kebutuhan meski kita enggak makan daging. Pokoknya tahu-tempe emang jadi idola di atas meja dapur keluarga.

Ngomong-ngomong sambal, aku termasuk salah satu "pemuja" masakan pedas. Aku doyan banget sama sambal, terutama sambal terasi. Hmmm membayangkannya saja mulut udah penuh liur LOL. Aku punya satu cara andalan membuat sambal terasi loh, irit bahan dan juga caranya simple enggak perlu takut kecipratan minyak panas.

Baca : Resep Sambal Terasi


Terasinya sendiri aku juga suka banget. Enggak melulu dijadikan sambal,  dijadikan campuran masakan juga enak kok! Udah pernah mencoba ayam tepung terasi? Kalau belum, coba deh! Kalau kata emak-emak koki di instagram, itu rasanya endeuuuus banget LOL. Cara memasaknya juga mudah kok, ntar ya kapan-kapan aku bagikan disini ^_^

[Update] Baca : Resep Ayam Goreng Terasi

Lalu, ada juga saudara dekatnya tahu-tempe yang aku juga mulai suka akhir-akhir ini yaitu si oncom. Uh, mungkin bagi beberapa orang agak aneh ya makan ini. 

Pertemananku dengan si oranye ini masih terbilang baru. Aku juga sih sebenarnya dulu agak sanksi kalau melihat oncom, apa sih enaknya? Tapi semua berubah saat nasi tutug oncom mengambil alih perhatian dunia masak beberapa waktu lalu. Yang suka update tentang resep di media sosial pasti tahu dong kalau resep satu itu sempat hits banget kemarin? 

Di grup memasak, di instagram, di cookpad, resep ini berseliweran. Ada aja yang posting, lengkap dengan foto yang dibuat instagramable banget. Aku, sebagai wanita yang jiwa emak-emaknya mulai membara ya akhirnya merasa tertantang juga untuk mencicipi makanan tersebut. Dimulailah semua ini.

Karena waktu itu kali pertama aku masak yang namanya oncom, jadi aku berhati-hati banget bahkan aku berulang kali bertanya ke bibi penjual kalau oncomnya benar-benar baru atau enggak. Setelah dicicipi, ternyata emang enak banget sih. Menurutku. Dapat deh makanan favorit yang baru. Hihi.

Lalu aku pernah juga iseng menggorengnya pakai tepung krispi, ternyata enak juga loh. Cocok untuk dijadikan cemilan di sore hari. Harganya pun murah kayak tahu dan tempe. Di sini lima potong oncom cuma dua ribu rupiah aja. Jadi enggak berat kan di kantong mahasiswa?

Untuk lauk yang berat seperti ayam, ikan, dan daging secara keseluruhan aku suka semua. Mau diapain juga aku doyan. Bahkan cuma dilumuri dengan air garam lalu digoreng aku juga suka. Aku emang enggak pemilih orangnya.

Begitu juga dengan sayur-mayur. Yang agak berat di aku makannya cuma pare sih, sisanya hayuk-hayuk aja. Hehe. Sayur itu pencuci mata. Maksudnya, kalau ke pasar suka banget cuci mata ngelihat-lihat sayur yang masih segar, hijau berkilau ditimpa sinar matahari. Huhu. Rasanya ingin dibawa pulang semua! Apa daya, teriakan hati tidak sesuai dengen teriakan kantong. LOL.

Terakhir, di deretan lalapan ada satu yang aku suka juga tapi enggak bisa dikonsumsi setiap hari. Aku suka petai. Memang sih katanya enggak baik, bahkan termasuk makruh ya di agama islam. Tapi kalau suka gimana dong? Hehe. Lagipula enggak setiap hari makannya, apalagi di kosan. Jarang banget, malah terbilang enggak pernah. Maklum, selain alasan ke-oke-an penampilan selama kuliah, harga petai lumayan labil dan bisa bikin meringis. Hihi.

That's it!

Sebenarnya belum semuanya sih. LOL. Tapi segini aja dulu. 

Intinya sih, kalau soal makanan, lidahku lidah Indonesia.


8 comments:

  1. hA Suka petai mbak? ...aku ndak suka sih.tp keluargaku suka semua.mungkin aku yg aneh ya.pdhl petai itu enak lo. klo ditemani sambal enak banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya suka :D
      memang enak sih, dimakan mentah pun enak. Sayang enggak bisa dimakan terus-terusan

      Delete
  2. Aku biasa aja sama nasi. Jarang makan nasi dalam sehari lebih dari dua kali. Banyaknya cuma sekali malah pernah beberapa hari cuek ga makan nasi. Nah kalau karbohidrat yang sumbernya selain nasi aku suka ga nyadar udah dilahap hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu sebelum ngubah mindset aku enggak bisa lepas dari nasi loh mbak. Bahkan sering sudah makan mie instan, nambah nasi pula. Rasanya enggak puas kalo belum makan nasi. Tapi sekarang udah berhasil ubah mindset, kalo udah makan makanan berat, enggak kepikiran lagi untuk makan nasi

      Delete
  3. Sama mbak..saya nggak kenyang kalau belum masuk nasi, serasa ada yang kurang :D Mana disini susah nemu jajanan kita...huaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehehe.
      Aku dulu juga begitu.
      Coba mbak juga ubah mindsetnya, biar enggak ketergantungan dengan nasi lagi :D

      Delete
  4. Des buruan bagi resep ayap tepung terasinya. Asli penasaran hehehee

    ReplyDelete